Laporan Pendakian Puncak Merapi Hari Jumat 22 November 2013

Laporan Pendakian Puncak Merapi Hari Jumat 22 November 2013
Gambar 1Gambar 1. Material hasil letusan tanggal 18-11-2013

A. MATERIAL
1. material yang ditemukan berukuran pasir hingga bongkah, material hasil letusan tanggal 18 November 2013 ditemukan dari sadel kawah mati (Lava 1915). Berdarkan kelerengan material ukuran pasir berada di puncak semakin ke bawah semakin bergradasi mengkasar.
2. Material yang baru in ditemukan dari sadel kawah mati hingga jalur pendakian di sekitar gunung anyar, jika ditarik garis lurus dari puncak hingga batas akir material tersebat sejauh 377 m jika ditarik garis lurus dan ketinggiannya berkisar dari 2930 mdpl hingga 2712 mdpl.
3. Pada saat pendakian ke Puncak G. Merapi tanggal 22 November 2013 material berukuran pasir dan lepas-lepas di sekitar sadel kawah mati ditemukan memiliki ketebalan 10 hingga 60 cm. Dengan adanya material lepas-lepas ini mempersulit jalur pendakian ke Puncak G. Merapi.
4. Material yang ditemukan sebagian besar merupakan material baru disekitar puncak dan G. Anyar yang berasal dari pendobrakan kubah lava 2010
5. Tidak ada jejak awanpanas yang ditemukan sekitar jalur pendakian (Gunung Anyar), yang banyak ditemukan sebagian besar adalah jatuan (Fall).
gambar 2Gambar 2. Material hasil letusan tanggal 18 November 2013 yang ditemukan di Puncak G. Merapi.
gambar 3Gambar 3. Pusat Erupsi dengan arah N 320E dengan arah Tenggara Barat Laut.

B. Morfologi Puncak
1. Pusat erupsi 18 November 2013 berada Di Kubah Lava Erupsi 2010 dengan arah pusat erupsi Barat Laut –Tenggara (N3200) E,
2. Pusat erupsi yang membelah kubah lava teramati asap solfatara dengan tekanan tinggi yang memiliki suhu sebesar 478 0C di ukur sekitar kawah G. Merapi. Pusat erupsi yang membelah sumbat lava pada pukul 10:32 WIB mengeluarkan asap dengan tekanan tinggi disertai suara blazer.
3. Pusat erupsi di bawah lava 48 sisi barat laut ini semakin melebar dengan diameter sekitar 100 meter dan membentuk kelurusan dengan pusat erupsi tanggal 18 November 2013.
Gambar4Gambar 4 . Suhu yang terekam oleh termal kamera maksimal sebesar 478 0C disekitar bekas kawah Gendol.

Sumber Kantor BPPTKG Jl. Cendana 15 Yogyakarta – 55166

Iklan
By mujiantomerapi

– LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI, Tanggal 8-18 November 2013

– LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI, Tanggal 8-18 November 2013 kami sampaikan via tweet dikarenakan server ESDM mengalami overload dan dalam maintenance.

– #1 Laporan aktivitas #Merapi tanggal 8 – 18 November 2013
Pada minggu ini tanggal 8 – 17 November 2013, keadaan cuaca cerah di sekitar G. Merapi umumnya pada pagi, sore dan malam hari. Siang hari cuaca cerah hanya terjadi sesaat. Asap solfatara berwarna putih tipis hingga tebal, tekanan lemah. Tinggi asap maksimum 100 m condong ke Barat terukur dari Pos Kaliurang pukul 14:30 tanggal 9 November 2013.

– #2. Pada tanggal 18 November 2013 pada pukul 04.53 telah terjadi letusan freatik kecil di G. Merapi. Kolom asap berwarna coklat kehitaman membubung setinggi 2.000 m teramati dari Yogyakarta dan Deles

– #3. sedang semua pos pengamatan G. Merapi tidak dapat mengamati. Suara gemuruh terdengar dari Pos Babadan (Kabupaten Magelang), Pos Selo, Pos Jrakah, dan Desa Tlogolele (Kabupaten Boyolali) dalam jarak 7 km dari puncak G. Merapi. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya hujan abu vulkanik ke sektor Timur meliputi Desa Cepogo, Musuk, Cluntang, Pujon, Kota Solo, dan Sragen. Berdasarkan pemodelan sebaran abu, jarak maksimal mencapai 62 km dari puncak Merapi

– #4. Kegempaan G. Merapi tercatat gempa guguran sebanyak 109 kali, MP 8 kali, tektonik 11 kali, VB 3 kali. Pada minggu sebelumnya tercatat gempa guguran 78 kali, MP 2 kali dan gempa tektonik 11 kali. Guguran yang terjadi memiliki amplitudo maksimal 80 mm dan durasi 70 detik, VB memiliki amplitudo maksimum 70 mm dan durasi 30 detik.

– #5. Adapun kronologi terjadinya letusan freatik #Merapi tanggal 18 November 2013 sebagai berikut :
a.Tanggal 18 November 2013,Pukul 04:41 WIB terekam gempa Tektonik.
b.Tanggal 18 November 2013, Pukul 04:58 – 05:08 WIB terjadi letusan freatik durasi 10 menit dan amplitudo maksimum 120 mm. Suara gemuruh terdengar dari Pos Babadan (Kabupaten Magelang), Pos Selo, Pos Jrakah, dan Desa Tlogolele (Kabupaten Boyolali) dalam jarak 7 km dari puncak G. Merapi.
c.Tanggal 18 November 2013, Pukul 04:58 WIB, kolom asap berwarna coklat kehitaman membubung setinggi 2.000 m teramati stasiun CCTV Deles.
d.Tanggal 18 November 2013, Pukul 05:47 WIB terekam gempa Vulkanik dangkal (VB) sebanyak 1 kali.

– #6. Pemantauan deformasi menggunakan EDM di G. Merapi dilakukan dari pos-pos pengamatan (Pos Selo, Pos Jrakah, Pos Kaliurang dan Pos Babadan) masing-masing terhadap reflektor RS1, RJ1, RK2, RB1. Hasil pengukuran jarak reflektor bervariasi di bawah 1 cm (di bawah ralat pengukuran). Hasil ini menunjukan bahwa terjadi deformasi di tubuh G. Merapi, namun tidak signifikan.

– #7. Data pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter di Stasiun Plawangan pada minggu ini belum menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan. Sumbu-X (arah Barat-Timur) memiliki kemiringan 0,4 mikroradian dan sumbu-Y (arah Utara-Selatan) memiliki kemiringan -0,2 mikroradian, sedangkan suhu alat rata-rata 20,66 °C. Data deformasi belum menunjukkan adanya inflasi ataupun deflasi. #Merapi

– #8. Hujan di sekitar G. Merapi terjadi dalam minggu ini tercatat di semua Pos pengamatan dengan intensitas curah hujan tertinggi 47 mm/jam selama 125 menit tercatat di pos Kaliurang pada tanggal 11 November 2013.

– #9. Kesimpulan dan Saran
a.Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam status “Normal”.
b.Kegiatan pendakian G. Merapi disarankan hanya sampai di Pasarbubar (± 2500 m dpl) saja, untuk menghindari kejadian hembusan gas, abu vulkanik, dan letusan freatik yang bisa terjadi setiap saat.
3.Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

– #10. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Yogyakarta, 18 November 2013
a.n. Kepala Badan Geologi
Kepala BPPTKG

Drs. Subandriyo, M.Si
NIP 19620612 199003 1 001

By mujiantomerapi

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
TANGGAL 26 AGUSTUS – 2 SEPTEMBER 2013

I. HASIL PENGAMATAN

Visual 

Keadaan cuaca di sekitar  G. Merapi pada umumnya cerah terjadi pada pagi hari. Hujan gerimis terjadi pada tanggal 30 – 31 Agustus 2013 dengan intensitas rendah. Asap solfatara berwarna tipis, bertekanan lemah, dengan ketinggian maksimum 250 m condong ke barat daya teramati dari Pos Kaliurang pada tanggal 29 Agustus 2013 pada pukul 06.06 WIB.
 
Kegempan G. Merapi tercatat gempa guguran 187 kali, MP 10 kali dan gempa tektonik 9 kali. Gempa guguran yang terjadi mempunyai durasi pendek (rata-rata 20 detik) dan amplitude kecil (rata-rata 12 mm). Guguran yang terjadi. Akibat ketidakstabilan material di lereng G. Merapi. Melihat jenis dan jumlah gempa yang terjadi menunjukan bahwa aktivitas G. Merapi dalam kedaan normal.
 
Gambar 1. Statistik kegempaan G. Merapi Bulan Januari  –  September 2013

Deformasi

Pemantauan deformasi menggunakan EDM di G. Merapi dilakukan dari pos-pos pengamatan (Pos Selo, Pos Jrakah, Pos Kaliurang dan Pos Babadan) masing-masing terhadap reflektor RS1, RJ1, RK2, RB1. Hasil pengukuran jarak reflektor bervariasi di bawah 1 cm (di bawah ralat pengukuran). Hasil ini menunjukan bahwa tidak ada deformasi ditubuh G. Merapi.

Gambar 2. Hasil pengukuran  EDM Pos Kaliurang, Babadan, dan Selo Bulan Januari – September 2013

Data pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter di Stasiun Plawangan pada minggu ini belum menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan. Data tiltmeter pada komponen-X (arah Barat-Timur) sebesar -0,3 mikroradian (tetap) sedangkan komponen-Y (arah Utara-Selatan) sebesar -0,6 mikroradian (tetap).

Gambar 3. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari – September 2013, sumbu-X (arah Barat-Timur) dan sumbu-Y (arah Utara-Selatan)

Hujan dan Lahar

Hujan di sekitar G. Merapi terjadi dalam minggu ini dengan intensitas kecil (gerimis), yaitu 35 mm selama 165 menit sehingga tidak terjadi lahar.

Gambar 5. Curah  hujan di setiap pos pengamatan  pada bulan Januari 2012 – Agustus  2013
II. SARAN
    1. Aktivitas hembusan bersifat sementara, bukan sebagai letusan magmatis, sehingga disimpulkan aktivitas G. Merapi tetap pada tingkat “NORMAL”.
    2. FKegiatan pendakian G. Merapi disarankan hanya sampai di Pasarbubar (± 2500 m dpl) saja, untuk menghindari kejadian hembusan gas dan abu vulkanik yang bisa terjadi setiap saat.
    3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.


Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Sumber Kantor BPPTK Jl. Cendana 15 Yogyakarta – 55166

By mujiantomerapi

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
TANGGAL 19 – 25 AGUSTUS 2013

I. HASIL PENGAMATAN

Visual 

Kondisi cuaca di sekitar G. Merapi pada umumnya cerah pada pagi hari, cuaca cerah sepanjang hari teramati di sektor Utara tanggal 19, 21 dan 22 Agustus 2013. Angin bertiup tenang hingga berlahan di semua Pos Pengamatan. Asap solfatara dominan berwarna putih, tipis dengan tekanan lemah, tinggi asap maksimum 100 m condong ke Barat Daya diukur dari Pos Babadan tanggal 19 Agustus 2013 pukul 05:45 WIB. Pada tanggal 25 Agustus 2013 pukul 07:15 WIB, Pos Babadan dan Jrakah melaporkan adanya guguran dengan jarak luncur 1.000 m ke arah K. Senowo.
 Gambar 1. Pengamatan di hulu K. Bebeng terlihat adanya material lepas-lepas di sisi  Barat Daya yang berpotensi menjadi lahar, jika curah hujan cukup tinggi
 
Statistik kegempan G. Merapi menunjukkan adanya gempa VB 1 kali, guguran 187 kali, MP 22 kali, LHF 7 kali, dan gempa tektonik 4 kali. Aktivitas kegempaan masih didominasi oleh gempa-gempa permukaan. Gempa guguran yang terjadi mempunyai durasi pendek sekitar 25 detik dan amplitudo kecil sekitar 15 mm, kecuali gempa guguran yang terekam tanggal 25 Agustus 2013 pukul 07.15 memiliki durasi 70 detik dan amplitudo 15 mm. Guguran yang terjadi dikarenakan faktor eksternal akibat ketidakstabilan material di lereng G. Merapi. Melihat jenis dan jumlah gempa yang terjadi menunjukkan bahwa aktivitas G. Merapi dalam kedaan normal.
 
Gambar 2. Statistik Kegempaan G. Merapi Bulan Januari  – Agustus 2013

Deformasi

Deformasi G. Merapi berdasarkan EDM dari pos-pos pengamatan (Pos Selo, Jrakah, Kaliurang dan Pos Babadan) terhadap reflektor RS1, RJ1, RK2, RB1 menunjukkan hasil pengukuran jarak reflektor bervariasi kurang dari 1 cm (di bawah ralat pengukuran). Hasil ini menunjukan bahwa tidak ada deformasi di tubuh G. Merapi.

Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan,  dan Selo Bulan Januari 2012 –  Agustus  2013

Data pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter di Stasiun Plawangan pada minggu ini belum menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan. Data tiltmeter pada komponen-X (arah Barat-Timur) tidak mengalami perubahan (tetap) sedangkan komponen-Y (arah Utara-Selatan) bervariasi sebesar -0,3 mikroradian.

Gambar 4. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari – Agustus 2013,
sumbu-X (arah Barat-Timur) dan sumbu-Y (arah Utara-Selatan).

Hujan dan Lahar

Dalam minggu ini, hujan di sekitar G. Merapi tidak terjadi, sehingga tidak ada lahar. Saat ini sudah masuk musim kemarau.

Gambar 5. Curah  hujan di setiap pos pengamatan  pada bulan Januari 2012 – Agustus  2013
II. SARAN
    1. Aktivitas hembusan bersifat sementara, bukan sebagai letusan magmatis, sehingga disimpulkan aktivitas G. Merapi tetap pada tingkat “NORMAL”.
    2. FKegiatan pendakian G. Merapi disarankan hanya sampai di Pasarbubar (± 2500 m dpl) saja, untuk menghindari kejadian hembusan gas dan abu vulkanik yang bisa terjadi setiap saat.
    3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.


Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Sumber Kantor BPPTKG Jl. Cendana 15 Yogyakarta – 55166
By mujiantomerapi

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

 LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
TANGGAL 12-18 AGUSTUS 2013

I. HASIL PENGAMATAN

Visual 

Cuaca cerah dari pos-pos pengamatan terjadi pada sepanjang hari terutama hari Senin dan Selasa, sedangkan hari Rabu hingga Minggu hanya  terjadi pada pagi dan siang hari. Angin bertiup tenang hingga perlahan, kecuali di Pos Selo angin bertiup sedang. Asap Solfatara dalam minggu ini dominan berwarna putih, tipis bertekanan lemah, tinggi maksimum 200 m teramati dari Pos Babadan pada pukul 09.50 WIB tanggal 13 Agustus 2013. Gambar 1 menunjukan morfologi G. Merapi dari sisi barat belum menunjukkan perubahan yang signifikan, diambil dari Pos Ngepos pada tanggal 12 Agustus 2013.
 Gambar 1. Morfologi G. Merapi dari sisi barat  belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
 
Kegempan G. Merapi tercatat adanya gempa guguran 212 kali, MP 34 kali, gempa Tektonik 10 kali dan LHF 4 kali. Aktivitas G. Merapi masih didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa guguran dengan durasi sangat pendek dan amplitudo kecil yang disebabkan oleh faktor eksternal. Hal ini menunjukkan aktivitas G. Merapi dalam keadaan normal. Gambar 2 menunjukkan statistik kegempaan selama Januari  hingga Agustus 2013.
 
Gambar 2. Statistik Kegempaan G. Merapi Bulan Januari  – Agustus 2013

Deformasi

Pemantauan dengan metoda deformasi dilakukan dengan pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) berdasarkan perubahan jarak reflektor di puncak G. Merapi (R1, R2, R3, dan R4) terhadap titik tetap di Pos Babadan, Pos Kaliurang, Pos Jrakah dan Pos Selo sebesar kurang dari 1 cm. Berdasarkan data EDM dapat dinyatakan belum terlihat adanya deformasi ditubuh G. Merapi. Hasil pengukuran EDM di Pos Kaliurang, Pos Babadan, dan Pos Selo disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan,  dan Selo Bulan Januari 2012 –  Agustus  2013

Pemantauan dengan metoda deformasi dilakukan dengan pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) berdasarkan perubahan jarak reflektor di puncak G. Merapi (R1, R2, R3, dan R4) terhadap titik tetap di Pos Babadan, Pos Kaliurang, Pos Jrakah dan Pos Selo sebesar kurang dari 1 cm. Berdasarkan data EDM dapat dinyatakan belum terlihat adanya deformasi ditubuh G. Merapi. Hasil pengukuran EDM di Pos Kaliurang, Pos Babadan, dan Pos Selo disajikan pada Gambar 3.

Gambar 4. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari 2012 – Agustus  2013, sumbu X: arah Barat-Timur dan sumbu Y: arah Utara-Selatan dari stasiun Plawangan.

Hujan dan Lahar

Hujan di sekitar G. Merapi tidak terjadi untuk minggu ini. Data curah hujan di sekitar Pos Pengamatan G. Merapi pada Januari – Agustus 2013 disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Curah  hujan di setiap pos pengamatan  pada bulan Januari 2012 – Agustus  2013
II. SARAN
    1. Aktivitas hembusan bersifat sementara, bukan sebagai letusan magmatis, sehingga disimpulkan aktivitas G. Merapi tetap pada tingkat “NORMAL”.
    2. Fenomena hembusan di G. Merapi sering terjadi paska letusan 2010, masyarakat di himbau agar pendakian ke puncak disarankan sampai Pasarbubar.
    3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.


Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

 

Sumber kantor BPPTKG Jl. Cendana 15 Yogyakarta – 55166
By mujiantomerapi
Sampingan

DSC02348Alam sekitar adalah anugerah Tuhan yang amat bernilai kepada kesejahteraan kehidupan. Manusia banyak bergantung kepada sumber-sumber semulajadi di muka bumi ini. Allah telah mencipta alam ini seimbang untuk kemakmuran munusia. Bumi yang luas dijadikan tempat tinggal manusia, gunung-gunung sebagai pemasak bumi, tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan dan ubatan kepada kehidupan, demikian juga dengan pelbagai jenis haiwan dan hidupan di lautan. Alam sekitar yang tidak tercemar memberikan kita suasana yang selesa dan menyamankan. Di samping memberi keselesaan kepada manusia, ia juga sedikit sebanyak akan terjejas akibat aktiviti-aktiviti pembangunan negara sekiranya alam sekitar di negara kita tidak dijaga dengan baik.

Persekitaran yang bersih membolehkan kita menyedut udara yang segar. Udara yang bersih merupakan nikmat yang sangat bernilai kepada kehidupan manusia. Kawasan yang segar dan bersih lazimnya dipenuhi dengan tumbuhan menghijau. Tumbuh-tumbuhan membebaskan oksigen ke udara dan membolehkan badan kita mendapat bekalan oksigen secukupnya.
Udara dalam alam sekitar kita yang bersih dan segar juga membolehkan kita menikmati keselesaan. Kita akan berasa selasa jika tiada gangguan di persekitaran kita. Cuaca panas dan kering yang disebabkan oleh kenaikan suhu dapat dielakkan dan membolehkan kita menjalani kehidupan dalam keadaan cuaca yang baik. Melalui persekitaran yang segar dan nyaman juga, orang ramai boleh melakukan aktiviti luar dan beriadah tanpa gangguan yang boleh menimbulkan perasaan rimas marah dan tidak selesa. Aktivti riadah yang dijalankan dalam keadaan bersih akan meningkatkan tahap kesihatan kita.
Selain itu, penanaman pokok-pokok haruslah dirancang dengan teratur dari semasa ke semasa. Penanaman tumbuhan hijau bukan sahaja memberikan suasana persekitaran yang sejuk dan nyaman, malah berfungsi untuk menstabilkan suhu persekitaran. Penanaman pokok-pokok ini juga bertujuan mengurangkan kesan pemanasan global melalui penyerapan karbon dioksida. Akhirnya, pemanansan global dapat dikawal dan akan dapat menstabilkan ekosistem persekitaran. Penjagaan sumber-sumber alam sekitar seperti pokok-pokok akan dapat membendung pelbagai masalah, sebagai contoh hutan mengawal hakisan tanah dan banjir. Hutan juga menjadi salah satu sumber ekonomi negara kita.
Alam setikar yang bersih juga dapat mengelakkan pembiakan serangga yang mampu membawa penyakit. Persekitaran yang bersih menghalang haiwan seperti lalat, nyamuk dan tikus daripada membiak dan menyebarkan penyakit kepada manusia seperti malaria, deman denggi, taun dan hawar. Keadaan ini turut melindungi makanan kita daripada dicemari oleh vector-vektor penyakit tersebut dan dengan itu, masalah keracunan makanan dapat dielakkan.
Gangguan daripada serangga di dalam rumah juga dapat dielakkan jika persekitaran dalam keadaan bersih. Alam setikar yang bersih dapat mengurangkan pembiakan serangga seperti nyamuk, lalat, dan serangga lain yang berada di dalam rumah. Tanpa serangga tersebut, kita dapat berehat dengan selesa di rumah pada bila-bila masa. Selain itu, persekitaran yang bersih juga mengelakkan pencemaran bau yang boleh mengganggu keselesaan hidup kita.DSC02325
 kita mesti sedar akan kepentingan memelihara alam semulajadi yang masih ada pada hari ini. Usaha-usaha memupuk kesedaran masyarakat terhadap kepentingan alam sekitar terus dilakukan. Semuanya adalah bagi meningkatkan pengetahuan, kesedaran dan penyertaan orang ramai bagi memelihara alam sekitar. Pemeliharaan alam sekitar adalah tanggungjawab bersama. Setiap generasi perlu turut serta supaya pembangunan lestari dikekalkan supaya dapat dinikmati sehingga generasi akan datang.
Salam Lestari… Damai Bumi Pertiwi

Mejaga Keseimbangan Alam, Untuk Generasi Mendatang

By mujiantomerapi

Menjaga Keseimbangan Alam, Menjaga Keseimbangan Kehidupan

DSC02274Alam memberi banyak pelajaran berharga bagi manusia, terutama bagi manusia yang mau berpikir dan berkembang secara wajar. Salah satunya adalah prinsip keseimbangan dalam hidup, yang seharusnya meniru alam sekitar kita. Karena keseimbangan itulah yang menjaga kelangsungan alam, kelangsungan para penghuninya termasuk kita.

Alam juga memberitahu kita mengenai efek ketidak seimbangan yang mungkin terjadi, banjir, tanah longsor mengingatkan kita secara langsung, bahwa segala perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan alam mengakibatkan bencana. Tidak hanya bagi manusia tapi juga bagi semua makhluk hidup yang bergantung kepada alam sekitar kita.

Begitu juga hidup yang harus dijalani oleh setiap manusia, harus selalu mengacu pada prinsip keseimbangan. Dalam kehidupan sosial, pekerjaan bahkan dikeluarga masing-masing. Keseimbangan menjaga hidup menjadi lebih stabil, tidak gampang terpengaruh oleh hal-hal negatif disekitar kita.

Perilaku kita sebagai manusia, selain memberi pengaruh kepada sesamanya, juga akan berpengaruh terhadap alam sekitar. Hal-hal yang sederhana dalam hidup, seperti misalnya cara kita memanfaatkan teknologi, sampai bagaimana cara kita membuang sampah, berpengaruh besar terhadap keseimbangan hidup kita ke depan. Bukan hanya keseimbangan alam, tetapi juga keseimbangan kehidupan yang kita jalani sehari-hari.

Banyak orang yang berperilaku negatif dalam kehidupan sehari-hari dan bisa mengganggu keseimbangan kehidupan alam dan kehidupan sosial secara umum. Misalnya adalah membuang sampah sembarangan, menggunakan teknologi secara berlebihan dan banyak hal yang lainnya. Secara langsung maupun tidak, perilaku negatif tersebut menjadi pengganggu keseimbangan alam dan kehidupan yang telah ada.

Sayangnya tidak banyak orang yang sadar diri dan mengerti bahwa perilaku kita dalam kehidupan sehari-harilah yang paling banyak mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan, padahal telah banyak contoh yang diberikan, seperti banjir tahunan yang hampir pasti datang setiap musim penghujan dibeberapa daerah di Indonesia. Sampai dengan kekeringan dan kekurangan air bersih di daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Bukankah itu semua adalah contoh yang seharusnya bisa kita jadikan pelajaran?

Memperbaiki itu semuanya memang bukan perkara gampang, tapi bisa dilakukan, caranya sederhana, hanya dengan komitmen dari setiap diri untuk menjaga keseimbangan alam sekitar dan kehidupan. Dengan cara sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan teknologi dengan bijak dan beberapa hal-hal yang bisa dilakukan oleh diri sendiri.

Maka keinginan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan bukanlah mimpi, bisa dilakukan oleh semua orang, hanya butuh komitmen dan keinginan dari diri sendiri. Berharap yang terbaik, berarti harus memberikan yang terbaik juga. Itulah hukum alam, dimana aksi akan selalu diikuti dengan reaksi yang sebanding. Maka berikanlah yang terbaik untuk alam, niscaya alam juga akan memberikan yang terbaik kepada kita para penghuninya. Mari mulai dari diri sendiri, semoga semakin banyak orang yang mau melakukannya, menjaga keseimbangan alam, menjaga keseimbangan kehidupan.

Salam Lestari… Damai sejahtera bumi pertiwi

By mujiantomerapi

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

 LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
TANGGAL 5 – 11 AGUSTUS 2013

I. HASIL PENGAMATAN

Visual 

G. Merapi menunjukkan cuaca cerah, pada pagi, siang dan malam hari sehingga puncak dan tubuh gunung sering tampak. Angin di sekitar pos-pos pengamatan umumnya tenang. Asap solfatara tercatat dominan berwarna putih tipis, bertekanan lemah, sumber asap dari dua lokasi yaitu dinding kawah bagian barat dan utara. Tinggi asap maksimum 450 m condong ke arah Barat teramati pada pukul 06:50 WIB dari Pos Kaliurang tanggal 5 Agustus 2013. Morfologi puncak Merapi dari Pos Jrakah tidak mengalami perubahan yang signifikan paska terjadinya hembusan kuat pada tanggal 22 Juli 2013. Gambar 1 menunjukkan morfologi G. Merapi dilihat dari Pos Jrakah.
 Gambar 1. Morfologi G. Merapi dilihat dari Pos Jrakah (sisi utara) tidak mengalami perubahan yang signifikan.
.
 
Kegempan yang terjadi pada minggu ini antara lain gempa Guguran sebanyak 64 kali, MP 3 kali, dan gempa Tektonik 13 kali. Sedangkan gempa Vulkanik tidak terjadi. Aktivitas G. Merapi masih didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa guguran dengan durasi sangat pendek dan amplitudo kecil yang disebabkan oleh faktor eksternal. Hal ini menunjukkan aktivitas G. Merapi dalam keadaan normal. Gambar 2 menunjukkan statistik kegempaan selama Januari  hingga Agustus 2013. Kejadian gempa Tektonik terasa di Yogyakarta pada tanggal 8 Agustus 2013 pukul 17.45 tidak mempengaruhi aktivitas kegempaan di G. Merapi.
 
Gambar 2. Statistik Kegempaan G. Merapi Bulan Januari  – Agustus 2013

Deformasi

Pemantauan dengan metoda deformasi dilakukan dengan pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) berdasarkan perubahan jarak reflektor di puncak G. Merapi (R1, R2, R3, dan R4) terhadap titik tetap di Pos Babadan, Pos Kaliurang, Pos Jrakah dan Pos Selo sebesar kurang dari 1 cm. Berdasarkan data EDM dapat dinyatakan belum terlihat adanya deformasi di tubuh G. Merapi. Hasil pengukuran EDM di Pos Kaliurang, Pos Babadan, dan Pos Selo disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan,  dan Selo Bulan Januari 2012 –  Agustus  2013

Hasil pemantauan deformasi berdasarkan tiltmeter stasiun Plawangan Januari– Agustus 2013, sumbu X: arah Barat-Timur dan sumbu Y: arah Utara-Selatan dari stasiun Plawangan terlihat pada Gambar 4. Data tiltmeter dari stasiun Plawangan masih bervariasi dalam batas normal dan belum menunjukkan trend yang signifikan. Data deformasi tidak menunjukkan indikasi aktivitas magmatisme di permukaan.

Gambar 4. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari 2012 – Agustus  2013, sumbu X: arah Barat-Timur dan sumbu Y: arah Utara-Selatan dari stasiun Plawangan.

Hujan dan Lahar

Hujan di sekitar G. Merapi masih terjadi dengan intensitas yang rendah (Gerimis) yang terjadi di 2 pos pengamatan yaitu Kaliurang 9 mm selama 20 menit dan Ngepos 5 mm selama 45 menit. Data curah hujan di sekitar Pos Pengamatan G. Merapi pada Januari – Agustus 2013 disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Curah  hujan di setiap pos pengamatan  pada bulan Januari 2012 – Agustus  2013
II. SARAN
    1. Aktivitas hembusan bersifat sementara, bukan sebagai letusan magmatis, sehingga disimpulkan aktivitas G. Merapi tetap pada tingkat “NORMAL”.
    2. Fenomena hembusan di G. Merapi sering terjadi paska letusan 2010, masyarakat di himbau agar pendakian ke puncak disarankan sampai Pasarbubar.
    3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.


Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

 

Sumber Kantor BPPTKG Jl. Cendana 15 Yogyakarta – 55166
By mujiantomerapi

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI TANGGAL 15 – 22 Juli 2013


Visual

 Pada minggu ini, cuaca teramati cerah pada pagi sampai siang hari. Hujan sesekali terjadi namun tidak merata, angin bertiup tenang. Suhu di sekitar berkisar antara 13-30 0C. Pada tanggal 22 Juli 2013 pukul 04.15 teramati hembusan asap kuat berwarna coklat kehitaman dengan tinggi asap mencapai 1.000 m diamati dari Pos Selo, disertai suara gemuruh yang terdengar dari sekitar G. Merapi pada radius 6-7 km. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya hujan abu vulkanik dan pasir ke sektor Tenggara, Selatan, dan Barat Daya. Gambar 1 menunjukan kejadian setelah terjadi hembusan yang membawa material berupa abu dan pasir teramati dari Dusun Stabelan Desa Tlogolele pada tanggal 22 Juli 2013 pukul 06.30 WIB.

Gambar 1. Kondisi Puncak G. Merapi Paska hembusan asap 22 Juli 2013 Dusun Stabelan, Desa Tlogolele.
 
  Pada tanggal 15 – 22 Juli 2013 (Pukul 08.00 WIB), kegempaan di G. Merapi tercatat gempa VB sebanyak 10 kali, MP 27 kali, LHF 87 kali, guguran 66 kali dan gempa Tektonik 7 kali. Kegempaan minggu sebelumnya yaitu gempa VB 1 kali, MP 5 kali, guguran 15 kali dan LHF tidak terjadi. Terjadi peningkatan jumlah gempa-gempa dangkal seperti VB, MP, LHF dalam minggu ini. Peningkatan gempa-gempa dangkal ini diduga sebagai penyebab terjadinya hembusan asap yang terjadi pada Senin, 22 Juli 2013. Karena hanya gempa-gempa dangkal saja yang meningkat, kemungkinan hembusan tersebut sebagai aktivitas vulkanik permukaan. Gambar 2 menunjukkan statistik kegempaan selama Januari hingga Juli 2013. Kegempaan yang terjadi di G. Merapi meningkat terutama gempa VB dan LHF.
 
 Gambar 2. Statistik Kegempaan G. Merapi Bulan Januari  – Juli 2013

  Data pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) di G. Merapi tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Data EDM di Pos Selo menunjukkan perubahan sebesar +1 mm, Pos Babadan sebesar -4 mm, Pos Jrakah sebesar -3 mm dan Pos Kaliurang sebesar +9 mm. Secara umum, perubahan jarak antara titik pengukuran EDM dan reflektor sebesar kurang dari 10 mm maka  deformasi G. Merapi masih dalam batas normal. Hasil deformasi ini menunjukkan tidak adanya akumulasi tekanan yang cukup besar hingga menimbulkan deformasi permukaan tubuh gunung. Hembusan asap yang terjadi hanya disebabkan akumulasi tekanan sesaat karena adanya pelepasan gas vulkanik. Hasil pengukuran EDM di Pos Selo, Jrakah, Babadan dan Kaliurang terlihat pada Gambar 3.

 

 
Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan,  dan Selo Bulan Januari 2012 –  Juli  2013

Pemantauan deformasi berdasarkan tiltmeter pada minggu ini juga tidak menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan antara alat yang berada di daerah Plawangan (Gambar 4). Perubahan data tiltmeter pada sumbu x yang mengarah ke Barat-Timur sebesar  0 mikroradian sedangkan sumbu y yang mengarah ke Utara-Selatan sebesar -0.6 mikroradian. Data tiltmeter digital stasiun Labuhan, Klatakan, dan Pasarbubar juga tidak menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan.

Gambar 4. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari– Juni 2013, sumbu X: arah Barat-Timur dan sumbu Y: arah Utara-Selatan dari stasiun Plawangan.

  Di sekitar G. Merapi, hujan masih terjadi dengan intensitas yang kecil (Gerimis). Gambar 5 menunjukkan curah hujan di setiap Pos Pengamatan pada Bulan Januari  hingga Juni 2013.

Gambar 5. Curah hujan di setiap pos pengamatan pada bulan Januari 2012 – Juli  2013

 

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas G. Merapi berada pada tingkat “Normal”.
III. SARAN
    1. Berdasarkan hasil pengamatan G. Merapi dinyatakan dalam status “Normal”
    2. Fenomena hembusan di G. Merapi merupakan fenomena yang sering terjadi paska letusan 2010, pendakian ke puncak G. Merapi direkomendasikan hingga Pasarbubar saja.
    3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.


Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.


Sumber @BPPTKG

By mujiantomerapi